Lepas Jilbab ?

Uli Saragih
2 min readApr 5, 2024
Photo by Habib Dadkhah on Unsplash

Sebenarnya sebagai sesama manusia, memang tidak boleh untuk menghakimi pilihan seseorang.

Tapi bagaimana jika pilihan tersebut bertentangan dengan perintah Allah?

Ketika seseorang memilih untuk tidak lagi menutup aurat sedangkan didalam agamanya diperintahkan untuk menutup aurat?

Tidak Ada Paksaan

Sesuai firman Allah surah Al-Baqarah ayat 256 yang artinya “tidak ada paksaan dalam menganut agama (islam), sesungguhnya telah jelas perbedaan antara jalan yang benar dengan jalan yang sesat,”

Tidak ada paksaan untuk masuk agama Islam. Tapi ketika sudah masuk agama Islam, seharusnya dia mengikuti peraturan didalam agamanya. Salah satunya adalah menutup aurat bagi perempuan yg sudah baligh.

Kalau kita berdalih, maunya menutup aurat karna menunggu kemantapan dan keyakinan hati, seharusnya keyakinan itu sudah ada sejak awal saat kita memutuskan untuk menjadi seorang muslim.

Logikanya begini, kita yang memilih Islam kok malah kita juga yang menolak aturan dari Islam. Kan lucu?

Ingat bahwa Allah Maha Penyayang dan Maha Mengetahui.

Jadi apa saja yang diwajibkan oleh Allah kepada kita itu semata-mata karna Allah sayang kita dan Allah tahu ada kebaikan didalamnya. Makanya Allah perintahkan kepada manusia.

Kita sebagai manusia yang banyak tidak taunya seharusnya menaati Allah yang Maha Mengetahui.

Tantangan Berbeda-beda

Mungkin kita lupa, bahwa ternyata tantangan seseorang untuk melaksanakan kewajiban agama seperti sholat 5 waktu dan menutup aurat itu berbeda-beda.

Ada yang mudah dan ada yang susah.

Kalau sejak kecil seseorang tumbuh di keluarga yang ‘agamis’ pasti dia akan mudah untuk melakukan kewajibannya sebagai seorang muslim.

Berbeda halnya dengan seorang yang tumbuh dari keluarga yang masa bodoh terhadap agama. Pasti akan sangat terasa berat untuk melakukan kewajibannya.

Tapi kita tidak perlu berkecil hati karna bisa jadi dengan tentangan yang berat itu justru membuat pahala kita semakin besar.

Anas bin Malik -raḍiyallāhu ‘anhu- meriwayatkan dari Nabi -ṣallallāhu ‘alaihi wa sallam-, bahwa beliau bersabda, “Sesungguhnya besarnya pahala tergantung pada besarnya ujian, dan jika Allah mencintai suatu kaum, Dia pasti menguji mereka; siapa yang rida maka baginya keridaan (Allah) dan siapa yang murka maka baginya kemurkaan (Allah).”

Jadi, apa sih yang harus kita lakukan?

Well, sebagai sesama manusia, memang tidak ada hak untuk menghakimi, tetapi kita ada hak untuk mengingatkan.

Ketika saudara seiman kita hampir keluar dari ‘jalur’ agama, tugas kita seharusnya merangkul kembali ke dalam bukannya justru mendorong keluar dengan memberi komentar buruk dan hujatan penuh penghakiman!

We often talk about someone else’s faults as if we will never do the same mistakes in the future. Maybe now, or in the past, we were never doing such thing that we thought as bad as what anyone else ever did. But who knows the future? (Sarah Dee)

-ulissaragih

--

--