Pacaran vs Pernikahan

Uli Saragih
3 min readJun 20, 2024

--

Photo by The HK Photo Company on Unsplash

Malam ini saya ingin menyelesaikan tulisan saya yang ini dikarenakan saya barusan saja terinspirasi dari menyimak obrolan adik-adik saya di grup WA. Meskipun kepala saya sedang pusing dan tidak enak badan, tapi rasa semangat saya ternyata mampu menepis rasa lelah itu.

Well, saya suka sekali menghabiskan waktu untuk menganalisa sesuatu bahkan sampai saya buatkan rumusnya sendiri. Meskipun hanya opini, tapi saya rasa cukup valid dan mewakili.

Pacaran = relationship Pernikahan=relationship + partnership

Relationship itu hanya sekedar hubungan sedangkan partnership adalah hubungan yang memiliki tujuan.

Relationship = cinta -> ketenenangan hati Partnership = nilai-> ketenangan hidup

Dari cinta, kita bisa menemukan ketenangan hati. Hati kita rasanya menjadi nyaman dan tenang. Tapi dari nilai dan karakter seseorang yg kita jadikan pasangan maka kita bisa menemukan ketenangan hidup.

Pacaran jika sebatas relationship

Makanya tidak heran kalau banyak orang yang berpacaran bertahun-tahun tapi tidak sampai menikah. Kenapa? Karna kebanyakan pacaran itu ya hanya sekedar relationship. Sekedar berhubungan tapi tidak ada tujuan.

Kalo kata anak X kan, orang yang cocok diajak pacaran belum tentu cocok diajak menikah.

Banyak loh contoh orang yang pacaran tapi ternyata gak mau nikah sama pacarnya sendiri. Kenapa coba? Karna memang dia sadar bahwa pasangannya tidak cocok dijadikan sebagai partner dalam pernikahan.

Pernikahan jika hanya partnership

Pernikahan ini sering terjadi didalam dunia politik dimana pernikahan terjadi karna ada unsur kepentingan kedua belah pihak. (Maaf) seperti pernikahan Pangeran Charles dan Diana. Tentulah pangeran Charles hanya menganggap pernikahannya sebatas partnership, tidak melibatkan relationship. Tentunya jika pangeran Charles melibatkan relationship didalam pernikahannya dengan princess Diana, tentunya ia tidak akan berselingkuh dengan Camilla bukan?

Pernikahan jika hanya relationship

Seseorang yang sangat bucin terhadap pasangannya yang toxic. Ia terlalu menutup mata untuk segala kesalahan pasangannya. Ia tidak peduli dan tidak memikirkan apakah pasangannya bisa menjadi partner yang baik atau tidak kedepannya.

Yang ia tahu, ia cinta dengan pasangannya. Tapi nilai dan karakter pasangannya diabaikannya.

Akhirnya apa? Setelah menikah, pasangannya tidak bisa menjadi figur ayah / ibu didalam keluarganya.

Pernikahan Ideal adalah yg memiliki relationship dan juga partnership

Menikahlah dengan orang yang kamu cinta dan juga layak untuk bisa diajak bekerjasama dalam membangun rumah tangga.

Mungkin inilah kenapa orang-orang mengatakan nikahlah dengan yang sekufu (sepadan). Karna didalam pernikahan juga ada yang namanya partnership. Pasangan kita harus bisa menjadi partner yang nyambung untuk diajak diskusi ini itu. Pun sebaliknya.

Jadi teringat analogi dalam Khotbahnya PS Henny katanya ‘Bayangin deh kalau dalam perjalanan di mobil, orangnya ga bisa diajak ngobrol. Ngobrol ini itu gak nyambung. Itu cuma 8 jam, apalagi seumur hidup??’

Sekufu bisa dalam agama, kedudukan, usia, pendidikan, kekayaan, status sosial, dll.

Sebenarnya tidak sekufu (sepadan) pun tidak apa-apa. Tetapi jika sepadan, maka tidak akan terlalu lelah untuk menyesuaikan.

Kesimpulan

Jadi jangan bingung lagi, kalau memang berniat menikah maka carilah 2 kriteria itu dimana seseorang itu mampu memberikan ketenangan hati dan juga ketenangan hidup.

Bytheway, jika kamu terpikir ‘seseorang’ sepanjang membaca tulisan ini, bisa jadi memang dialah orangnya ✨

Karna hubungan tanpa ada tujuan akan sia-sia sedangkan hubungan tanpa rasa juga akan hambar.

Semoga Bermanfaat 🌻

ulissaragih-

--

--